Archive for January, 2011

Cinta Fitria (Episode #27): Pray-Boy

“Must, kemarin kamu bilang apa? Kekuranganku cuma satu?” tanya Anas tiba-tiba.

“Iya, kurang ajar”

“Maksudmu?” tanya Anas dengan nada tinggi tanda tak terima.

“Terima saja, itu sudah menjadi garis tangan” kataku.

Sebenarnya tidak adil juga mengatakan Anas demikian. Tapi mau gimana lagi, image yang diciptakan sendiri emang begitu. Anas anak yang baik, aku kenal dia lebih dari tiga tahun. Namun, ada satu hal yang sulit diubah di tempat kerja kami, image.

Kami bekerja di bagian yang menangani kehumasan. Satu hal yang menjadi keahlian orang-orang humas yaitu mengenai pencitraan. Mereka dituntut bisa mencitrakan unit organisasi di tempatnya bekerja sesuai dengan visi organisasi tersebut. Berbekal pengalaman akan hal itu, maka tak heran bila mereka pun pandai mencitrakan diri sendiri. Hal itulah yang juga berlaku di tempat kami. Bahkan, beberapa orang pun suka dan memang ahli berperan dalam mencitrakan orang lain—selanjutnya kita sebut dengan pembunuhan karakter.

Anas adalah salah satu korban pencitraan. Bagaimana tidak? Image kurang baik yang melekat pada dirinya masih tetap terjaga sampai sekarang. Dulu dia pernah mempopulerkan dirinya sebagai pray-boy. Dengan bantuan seorang teman dia membuat suatu blog khusus untuk mempopulerkan dirinya. Namun, siapa sangka malang tak dapat ditolak, untung tak boleh diraih, hal itu menjadi boomerang bagi dirinya. Bukan hanya karena dia yang kurang fasih melafalkan, kemungkinan memang tampangnya juga sudah mendukung. Seperti anak kecil yang baru belajar ngomong, belum bisa mengeja huruf abjad secara lancar. Apalari kalau disuruh melafalkan abjad yang sulit seperti r (er), maka akan dilafalkan sebagai l (el). Kita menyebutnya dengan istilah cadel. Maka teman-teman Anas tiba-tiba menjadi cadel bila harus menyebut Anas sebagai pray-boy.

Sudah aku ceritakan di depan bagaimana tingkah laku Anas ketika melihat wanita cantik berjalan di depannya, bagaimana sikap Anas bila satu lift dengan wanita cantik, bagaimana reaksi Anas bila melihat wanita cantik di mall dan tempat umum lainnya. Hal itulah yang menjadi modal pendukung bagi Anas untuk terus menyandang gelar barunya. Namanya juga korban pencitraan, ada korban berarti ada juga pelakunya. Kalau kata Bang Napi kejahatan itu bukan semata-mata karena niat pelakunya, tetapi bisa juga karena ada kesempatan. Maka pihak korban terkadang tanpa sadar telah menyeret dirinya ke dalam tindak kejahatan.

Ketika Anas mendapat tugas keluar kota temen-temennya selalu berpesan: Nas, ingat yang di rumah, kalau macem-macem aku bilangin lho. Kalau aku beda lagi pesan yang aku berikan. Misalnya saat Anas bertugas melakukan kegiatan peliputan di Bandung yang pesertanya anak-anak SMA di sana, tidak cukup menurutku kalau hanya berpesan : Nas, ingat yang di rumah, makanya aku bisanya menambahkan: Nas, ingat yang di rumah, ingat yang di kantor, ingat yang di kampus, ingat yang di kampung.

“Bukan begitu Nas, yang penting sekarang kan kamu tahu apa kekuranganmu. Kata bos, kita harus tahu apa kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Dan carilah pasangan seseorang yang bisa menutupi apa kekuranganmu. Misalnya kamu seorang yang cerewet, carilah seorang yang mau mendengar semua ocehanmu. Bila kamu hobi makan, carilah pasangan yang hobi masak. Andaikan kamu kurang tinggi, carilah pasangan yang tinggi biar tak perlu jinjit bila harus mengganti lampu. Begitu juga misalnya kamu merasa kurang cakep, carilah pasangan yang cakep biar ada harapan untuk keturunanmu. Haha…”

“Berarti kalau aku kurang ajar harus nyari pasangan seorang dosen?”

“Bukan! Guru karate”.

(Bersambung)

Advertisements

January 8, 2011 at 4:07 pm 9 comments

Cinta Fitria (Episode #26): Sajak Cinta untuk Fitria

demi cintaku padamu,
‘kan ku tembus langit tak berujung
‘kan ku jelajahi penjuru bumi

demi kau bahagia,
‘kan kudaki Gunung Himalaya
‘kan kulintasi Gurun Sahara
‘kan kusebrangi Samudra Hindia

Itu sms bait puisi yang dikirimkan Anas untuk Fitria tadi pagi. Setiap hari Anas berusaha bangun lebih pagi. Dia selalu mengirimkan kata-kata kepada Fitria dengan tujuan saat Fitria membuka mata, yang pertama kali dibaca adalah sms darinya. Bahkan sekedar ucapan selamat pagi tak pernah absen diucapkan kepadanya.

Raguku kau bisa buatku bahagia

Itu balasan sms yang didapat Anas dari Fitria, tak seperti yang di duga sebelumnya. Akhirnya dia memberanikan diri menanyakannya kenapa Fitria meragukan dirinya untuk membuat Fitria bahagia. Fitria menjawab pertanyaan Anas dengan mengirimkan sebait puisi.

Bagaimana bisa aku bahagia?
Saat pagi kubuka mata, mungkin kau di tengah samudera
Saat rindu seketika ingin jumpa, kau tengah melintasi gurun sahara
Setiap hari aku sendiri, karena kau jelajahi penjuru bumi

****

Pagi itu seperti biasa aku, Anas dan temen-temen se-gank sarapan di warung makan pojok. Di situ Anas menceritakan semuanya kepaku tentang sms-nya kepada Fitria tadi pagi. Sebenarnya aku pengen ketawa tetapi tak tega melihat wajah Anas yang memelas. Akhirnya, aku membiarkan dia melanjutkan ceritanya, melontarkan sedikit penyesalan akan dirinya.

“Must, menurutmu kata-kataku tadi gombal gak?”

“Gombal banget”

“Tapi, bukankah cewek seneng digombalin?”

“Kalau tidak boleh dibilang semua, sebagian besar cewek emang suka digombalin. Gombal kan biasanya identik dengan pujian atau pun sanjungan. Pada dasarnya semua orang suka dipuji, tidak hanya cewek”.

“Tapi Fitria kok gak suka kayaknya?”

“Jangan salahkan teori, masalahnya kan kita gak tau Fitria cewek atau bukan. Haha…”

“Dasar lo”.

“Begini, itu kan hanya reaksinya saja. Senang atau tidak kan masalah hati. Bisa saja dia suka tapi mengekspresikan seperti marah atau pun ekspresi lainnya. Atau mungkin benar dia memang tidak suka kamu kirimin kata-kata demikian, dan kalaupun dia tidak suka itu  sah-sah saja. Tidak salah, tidak juga aneh. Orang bebas suka atau tidak akan suatu hal, tidak ada yang nglarang.”

“Menurutmu aku kurang apa?”

“Kurang apa ya? Kayaknya gak ada yang kurang. Cakep… sudah, pinter… apa lagi, baik hati, suka menolong, rajin menabung. Hmmm, menurutku kamu kurangnya cuma satu”.

“Kurang apa must?”

“Kurang ajar!”

Aku tak bisa melihat bagaimana ekspresi Anas ketika aku menjawabnya demikian, aku langsung sembunyi di kolong meja, takut dilempar gelas, piring atau semacamnya. Tak enak juga ngeledekin Anas terus-terusan.

“Nas, sini pinjem HP-mu”

“Buat apa?”

“Aku bantu ngomong sama Fitria.”

“Lho, bukannya HP-ku kamu bawa. Kemarin kan kita tukeran HP pas pulsaku habis”.

“Lah? Yang kamu pakai buat SMS Fitria tadi HP-nya siapa?”

“Oh, iya. HP-mu berarti. Haha…”

“Wah, kacau kamu. Ya sudah, mana HP-ku? Sini!”

Aku menuliskan sebaik sajak untuk Fitria, melanjutkan puisi yang tadi pagi dikirimkan oleh Anas.

Ada bait yang hilang dari sajakku pagi tadi
Kan kubawa serta dirimu ke manapun aku pergi
Dengan suka atau terpaksa

(Bersambung)

January 3, 2011 at 5:09 pm 18 comments


January 2011
M T W T F S S
« Dec    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives

Recent Posts