Cinta Fitria (Episode #22): Budaya Berteori

December 9, 2010 at 5:46 pm 6 comments

Seperti biasa pagi-pagi geng kami sudah sarapan di warung pojok DPR, Di bawah Pohon Rindang, yang letaknya memang di pojokan area kantor tempat kami bekerja. Ada Anas, Novita, Endah, aku dan teman-teman lain sekantor yang duduk melingkar dalam satu meja. Tiba-tiba datang Fitria bersama gengnya, Adi dan Aan. Melihat hal itu, tanpa dikomando Anas langsung memandang Fitria tanpa berkedip sekalipun, dari ujung kepala sampai ujung kepala lagi. Melihat hal itu Novita berkomentar.

“Mentang-mentang gak ada ceweknya, ngelihatin Fitria sampai begitu, jaga pandangan!”

“Iya, ini pandanganku ke Fitria dah aku jaga terus dari tadi” kata Anas tanpa memalingkan matanya dari apa yang dilihatnya dari tadi.

“Mungkin maksud Novita, kamu diminta untuk menahan pandanganmu” Endah mencoba membenarkan kalimat temannya yang dirasa kurang tepat.

“Justru itu aku dari tadi menahan pandanganku supaya jangan sampai lepas” Anas tak mau kalah.

Aku mengambil posisi untuk memberikan komentar, menyadari hal itu Anas buru-buru mengeluarkan teorinya.

“Cewek must, kalo kamu perhatikan terus, nanti bakalan suka sama kamu” teori Anas tentang cewek untuk kesekian kalinya.

Sebenarnya gak ada yang salah dengan kebiasaan berteori. Setiap orang punya teori sendiri-sendiri, tentang apapun, diungkapkan ataupun disimpan dalam hati. Juga semua teori Anas tentang wanita, ada benarnya juga, walaupun tidak semuanya benar. Namanya juga teori buatan manusia, tidak ada yang benar sempurna. Apalagi teori tentang manusia, yang mana manusia diciptakan Tuhan begitu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada satu teori pun buatan manusia yang sanggup merangkumnya dalam satu teori yang bisa diterima semuanya. Manusia diciptakan unik dan beragam. Maka runtuhlah teori keseragaman.

“Bukan diperhatikan, tapi diberi perhatian” kataku mencoba membantah toeri Anas.

Sejak itupun aku ikut-ikutan berteori. Tidak mau kalah, kata teman-teman. Namun, masalah produktivitas masih jauh bila dibandingkan dengan Anas. Seandainya dulu aku kemana-mana membawa buku catatan dan aku catat setiap teori yang dikatakan oleh Anas, mungkin sekarang aku sudah bisa menerbitkan sebuah buku. “Buku Pintar Bagaimana Memahami Wanita”, itu mungkin judul untuk buku yang aku terbitkan karena orang Indonesia sangat menyukai buku pintar. Atau kalau tidak aku beri judul: “Rahasia Sifat Wanita”, karena orang-orang bakal tertarik pada sesuatu yang namanya rahasia. Atau mungkin biar lebih laku akan aku beri judul: “1001 Teori Tentang Wanita, ditulis oleh sang Penakluk Wanita”. Para cewek memang suka cowok yang perhatian karena mereka memang senang diperhatikan. Seperti lagunya Ada Band yang berjudul “Karena Wanita Ingin Dimengerti”, cewek-cewek pada umumnya suka kalo punya cowok yang bisa mengerti diri mereka dan segala keinginan mereka.

Menyadari dirinya dilihat terus oleh Anas, Fitria menjadi salah tingkah. Akhirnya dia memberanikan diri menegur cowok yang dirasa kurang ajar padanya.

“Ngapain lihat-lihat, belum pernah lihat cewek cantik apa!” bentak Fitria.

Mendengar hal itu dengan tenang Anas menghampiri Fitria, mengulurkan tangan dengan maksud memperkenalkan diri.

“Namaku Anas, namamu Fitria kan?” jawab Anas sok kenal sok dekat.

Karena belum direspon, Anas melanjutkan kata-katanya.

“Hmm, punya bolpen gak?”

“Gak” jawab Fitria ketus.

“Kalau nomer HP punya kan?” lanjut Anas memaksakan diri.

Fitria mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, sebuah kartu nama, menyerahkannya kepada Anas.

“Nih, kamu boleh telpon nanti malam, sekarang silakan pergi dan jangan ganggu aku” sekarang Fitria berkata lembut berharap Anas segera pergi meninggalkannya.

“Nah gitu dong, nomermu cantik, kayak orangnya. Ini nomer HP-mu kan?” tanya Anas dengan wajah gembira, tinggal satu langkah lagi pikirnya.

“Bukan, nomer HP pacarku” jawab Fitria diiringi tawa beberapa orang di sekitarnya yang tak sengaja mendengar percakapan tersebut.

Anas lari meninggalkan tempat itu, tanpa bernapsu menghabiskan sarapan yang ditinggalkannya tadi.

“Sial, alamat mbayarin makanannya lagi” umpatku.

(Bersambung)

Advertisements

Entry filed under: Cinta Fitria.

Cinta Fitria (Episode #21): Pesona Anas Cinta Fitria (Episode #23): Bakat Fotografer

6 Comments Add your own

  • 1. Cinta-Fitri  |  December 10, 2010 at 9:31 am

    hahaha… penulis sangat pintar menyusun kata2 ya..

    Itu si Anas ngapain lari??hehe…Malu ato kebelet ato dia sedang menuju ke ce yang lebih menarik lagi tuh…..

    Reply
    • 2. mustphar  |  December 10, 2010 at 9:58 pm

      terima kasih 🙂

      kebelet malu deh kayaknya… 😀

      Reply
  • 3. anik  |  December 14, 2010 at 10:50 am

    owh si anas pemalu ya…
    loh kok Fitria orangnya ketus…
    nah kalo si penulis emang hobi mbayarin temen yang kabur duluan…
    wkkwkwkwkkwk

    Reply
    • 4. mustphar  |  December 17, 2010 at 7:34 am

      sisi lain anas & fitria

      Reply
  • 5. klozee  |  December 24, 2010 at 9:16 pm

    woalah nas nas..ngisini ngisini wonogiren wae….

    Reply
    • 6. mustphar  |  January 2, 2011 at 11:49 pm

      ojo nggawa2 Wonogiren tux, ndak aku yo katut 😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Recent Posts


%d bloggers like this: