Cinta Fitria (Episode #20): 06 Desember

December 6, 2010 at 1:33 pm 4 comments

Sudah lama rasanya aku tidak ngumpul-ngumpul bareng teman satu angkatan. Dan hari ini, setelah sekian lama akhirnya kami bisa ngumpul bareng lagi, Fitria, Anas, Novita dan aku sendiri. Sudah lebih tiga tahun kami bekerja di kantor yang sama. Malam ini kami sengaja makan bareng di salah satu tempat makan yang dulu pernah menjadi tempat favorit kami di Atrium Plaza. Sebenernya bukan favorit, hanya saja satu-satunya tempat makan yang menyajikan makanan yang cocok untuk lidah anas dan aku.

Sejenak kita tinggalkan Aan dan Adi, kita coba lihat di masa depan apa yang terjadi dengan fitria. Sebelumnya aku akan memperkenalkan kepada teman-teman tentang Anas dan Novita. Anas ini berasal dari daerah yang sama denganku, Wonogiri. Hanya saja dia memiliki nasib yang berbeda denganku. Dengan bakat alami fotografernya dan modal tampang yang kata orang mirip artis terkenal ibu kota, dia bisa mendapatkan cewek manapun yang dia suka. Tanpa terkecuali.

Dan novita, cewek kelahiran bulan November ini mengklaim dirinya paling cantik di mana pun dia berada. Kalau setiap hal itu ada ahlinya masing-masing, maka urusan traktiran, makan-makan dan oleh-oleh, dialah ahlinya. Aku memanggil novita dengan panggilan “ndhut”. Bukan karena dia gendhut, justru atas keberhasilannya aku berani memanggil ndhut. Pas masih gendhut dulu mana berani aku memanggil demikian, bisa-bisa taringnya keluar semua. Mungkin itulah salah satu prestasi novita yang diakui banyak orang, mengingat hobinya makan dan ngemil tanpa henti dia berhasil menurunkan berat badannya sampai batas yang dia inginkan dan menjaga kestabilannya. Saat dikantor persediaan makanan di laci mejanya cukup untuk tujuh hari, aku biasanya minta ke dia kalau lagi kelaparan. Bahkan teman kosnya pernah cerita, kalau dia diajari novita untuk punya kotak ajaib, seperti kantong ajaibnya doraemon, tapi isinya makanan semua. Kalau lagi dalam perjalanan, misalnya pulang kampung dia menyediakan satu tas khusus, cukup besar, yang hanya diisi dengan aneka snack dan makanan. Ibarat kalau mau memanggil jin kita sediakan bunga tujuh rupa, kalau mau ngundang novita cukup sediain makanan yang cukup, dia pasti datang.

Hari ini, mungkin yang terakhir—aku gak tahu—kami bisa bareng-bareng seperti ini. Dulu pas awal-awal masuk kantor, kami sering makan bareng di tempat ini, menemani novita buka puasa, mendengarkan fitria cerita tentang mimpi-mimpinya, mendengarkan anas yang memamerkan gebetan barunya dan aku sebagai pendengar setia mereka, tanpa komentar bila tidak diminta. Selepas itu, kami punya dunia sendiri, sibuk dengan urusan masing-masing. Dan saat ini aku bertemu kembali dengan teman-temanku, dengan status yang berbeda dari tiga tahun yang lalu. Fitria telah menemukan belahan hatinya, Anas telah berhenti main-main dan hanya mencintai satu wanita, selebihnya aku gak tahu. Hanya aku dan novita yang masih berstatus sama, hanya bedanya novita sudah jelas statusnya sejak lebih dari tiga tahun yang lalu. Dan aku, saat suasana seperti ini, biasanya yang selalu jadi bahan ledekan.

Kisah cinta fitria tidaklah semulus yang teman-teman kira. Nanti akan aku ceritakan sebatas yang aku ketahui. Juga tentang Aan dan Adi, apakah salah satunya menjadi pendamping hidup yang dipilih Fitria saat ini, ataukah Fitria malah memilih orang lain. Bagaimana tentang seorang Fitria yang menjadi pujaan para pria, diinginkan setiap lelaki, ternyata harus mengalami apa yang namanya patah hati hingga sempat terbesit keinginan untuk hidup sendiri, tanpa laki-laki.

Fitria berkeinginan untuk menjadi wanita karir yang mandiri. Sebagai temannya aku tentu saja mendukung, hanya saja keinginan untuk menutup diri dari laki-laki aku tidak setuju. Aku berdoa semoga itu hanya keinginan sesaatnya, semoga suatu saat akan ada lelaki yang bisa membuka hatinya. Dan hal itu menjadi benar saat ini. Dia telah melupakan saat-saat dulu sering berdebat soal itu denganku. Aku yang sering ngotot bahwa dia tidak mungkin hidup sendiri, mungkin untuk saat itu tapi tidak untuk saat nanti. Bagaimanapun juga karir tertinggi seorang wanita adalah menjadi seorang ibu, itu yang aku yakini. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya, memberikan teladan yang baik, tempat mencurahkan kasih sayang anak dan suaminya. Itulah yang membuat nilai seorang ibu lebih tinggi dari surga, surga berada di bawah telapak kakinya, bukan di atas kepalanya.

(Bersambung)

Advertisements

Entry filed under: Cinta Fitria.

Cinta Fitria (Episode #19): Selamat Tinggal, Patah Hati! Cinta Fitria (Episode #21): Pesona Anas

4 Comments Add your own

  • 1. Cinta-Fitri  |  December 6, 2010 at 2:02 pm

    Mas, nek aku curhat ning kowe brarti ntar bisa juga ya aku dibikinin novel ber episode…..hihihi,,

    Reply
    • 2. mustphar  |  December 9, 2010 at 1:05 pm

      boleh, mau berapa episode? sesuai permintaan. 😀

      Reply
  • 3. nidu  |  December 15, 2010 at 8:24 pm

    Kok ra ana Footprint e meneh alias catatan kaki, atau kata2 mutiarane Kang???

    Reply
    • 4. mustphar  |  December 17, 2010 at 7:27 am

      lagi kehabisan stok kata2 mutiara, haha….

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Recent Posts


%d bloggers like this: