Maafkan Aku…

February 24, 2009 at 9:24 am 5 comments

Aku beranjak menuju jendela kamarku. Ku buka tirai jendela pelan-pelan. Di luar hujan masih belum juga reda. Sore itu Jakarta di guyur hujan lebat. Sesekali masih terdengar suara kilat menyambar, kemudian terdengar suara guntur menggelegar. Tanpa kusadari jalanan di depan rumahku sudah tergenang banjir. Walaupun belum begitu tinggi, namun sudah mulai masuk ke halaman rumah bahkan ada yang mencapai teras rumah. Rasa-rasanya hujan tak kunjung berhenti seakan langit akan menumpahkan seluruh air matanya. Mereka seolah-olah tau apa yang terjadi dengan diriku.

Aku sudah berhenti menangis saat itu. Seakan-akan air mataku sudah habis hingga tak mampu menetes lagi walaupun hati ini masih terus menangis. Dan langit seakan tahu hingga tanpa diminta pun mereka mau melanjutkan tangisku. Aku sudah capek menangis, walau sakit hatiku belum berkurang sedikitpun. Rasa lapar mulai terasa menganggu lambungku. Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar hingga makan pun aku lupa. Kulihat di meja ada sepiring nasi yang diantar kakakku tadi siang. Nasi itu diantarkannya ke kamarku karena dari kemarin sore aku tak pernah ke luar kamar. Namun, sampai detik ini tak pernah aku sentuh sedikitpun. Dan aku tak peduli lagi dengan rasa lapar yang mencoba merayuku.

Dan aku yang belum mandi sejak tadi pagi menatap wajahku di cermin. Parasku yang cantik—kata orang-orang—terlihat menyedihkan di cermin meja riasku. Sungguh pesona kecantikanku yang aku bangga-banggakan selama ini pudar hanya dalam waktu satu malam. Ternyata aku baru sadar, kalau diriku pun bisa terlihat jelek dengan mata bengkak kemerah-merahan karena tidak tidur semalaman dan tak berhenti meneteskan air mata. Namun, aku pun tak peduli dengan semua itu.

Kulihat jam dinding kamarku, jarumnya terasa berputar lebih lambat dari biasanya. Dan aku pun berangan, seandainya saja jarum jam bisa berjalan ke belakang. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Dan andaikan detik-detik yang telah hilang bisa diganti. Dan semua penyesalan ini tak akan pernah terjadi. Oh Tuhan, betapa bodohnya aku ini. Kenapa aku baru sadar setelah dia pergi?

Aku terkejut mendengar suara petir tiba-tiba yang memekakkan telinga. Ada sedikit rasa takut mulai menyelimuti dinding hatiku. Hal itu menyadarkanku serasa aku begitu kecil di hadapan yang Mahakuasa. Dan dari lubuk hatiku aku sadar aku tak mau terus menerus begini. Aku harus bisa keluar dari semua ini. Aku harus bisa menemukan diriku kembali. Tuhan, tolonglah aku agar bisa bangkit lagi.

Di luar hujan belum juga reda. Seperti hujan air mata yang terus-menerus membasahi dinding hatiku. Sempurna sudah suasana yang diciptakan. Aku masih termenung dalam lamunan. Sunyi hati ini, sepi jiwa ini, sendiri aku di sini tanpa seseorang yang ku ajak berbagi hati. Siapa yang masih mau mengerti dengan diri ini? Tuhan, masihkah Engkau peduli dengan diriku ini?

Terdengar bunyi dering HP kesayanganku, satu-satunya teman yang selalu menemaniku ke mana saja. Selalu ada di saat aku senang, tak pernah lari saat kesusahan datang. Ternyata sms dari Ary temanku kampus yang ngasih tau kalo ada postingan baru di blognya. Ary memang seorang blogger yang potensial, berpotensi menimbulkan kerusuhan. Aku bales sms Ary kalo aku belum mood untuk membacanya karena diriku pun masih dirundung masalah, dan kalo boleh aku ingin menceritakan masalahku ke Ary. Siapa tahu dia bisa ngasih saran. Atau barang kali bisa menjadi ide cerita di blognya. Siapa tahu? Karena Ary pernah bilang ke aku, kadang penderitaan orang lain bisa memberikan manfaat bagi seseorang lainnya dan kadang kesalahan orang lain bisa menjadi berkah bagi seseorang lainnya.

Aku menghidupkan laptopku. Aku bermasuk menceritakan keadaanku ke Ary melalui chatting. Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu. Hatiku mungkin sudah sedikit lebih kuat hingga aku berani menceritakan masalahku pada orang lain. Sambil chatting aku memutar playlist musik di laptopku. Sengaja kupilih lagu-lagu yang bisa mewakili suasana hatiku saat itu.

😥

Ku ketikkan tanda emosi yang menunjukkan kalau aku sedang menangis untuk mengawali percakapanku dengan Ary sore itu.

“Ada apa May kok sore-sore dah tangis-tangisan kayak gitu?”

Maya adalah nama panggilanku di kampus Kalau temen-temen SMA dulu biasa memanggilku Luna. Nama panjangku Maya Maluna. Aku bingung mau memulai ceritaku dari mana. Terasa ada yang menetes di keyboard laptopku. Aku melihat ke atas kalau-kalau atap kamarku mulai bocor kerena hujan yang tak kunjung reda. Ternyata tidak, hanya air mataku yang jatuh kembali tak mampu ku tahan lagi. Saat ingin bercerita itulah aku jadi sedih lagi teringat semuanya itu. Di antara suara rintik air hujan yang agak mulai reda, sayup-sayup terdengar lagunya Samsons yang sengaja aku putar menemani kesedihanku.

Andaikan kau masih ada berdiri mendampingiku

Ku ingin kau pun tahu betapa ku menyayangimu

Andaikan ku sanggup untuk memutar kembali waktu

Tak pernah sekejap pun ku alihkan engkau dari perhatianku

“Aku ingin cerita tentang keanehanku”. 🙂

Kata-kata itu yang sengaja ku pilih untuk mengawali ceritaku pada Ary sambil kupaksakan untuk tersenyum. Iya, menurutku aku memang aneh.

“Keanehanmu yang mana?”

“Hikz… emangnya keanehanku banyak ya? Kok nanyanya keanehanku yang mana?”

“Hehe… aku kan gak tahu yang mana yang kamu maksud aneh itu?”

“Tapi ini rahasia lagi ya? Awas kalau sampai ada yang tahu”.

“Rahasia ke-3. Ancaman ke-14”

“Emangnya yang pertama rahasia apa? Kok sudah ancaman ke-14?” 🙂

Kali ini aku bener-bener tersenyum, bukan lagi senyum yang kubuat-buat. Memang temenku yang satu ini pandai bikin temen-temennya tertawa. Dia memang dikenal humoris, lebih tepatnya sok humoris, sok puitis dan sok romantis. Kadang aku sampai tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Walau kadang bercandanya agak menyakitkan diriku. Tapi aku sadar, itu hanya bercanda tidak ada maksud menyakiti hatiku.

“Gini, aku critain dulu. It’s about Rio”

“OK”

“Aku critain awalnya ya? Sebenernya dari awal aku deket. Dan aku dah sadar kalo cowo ini aneh. Makanya awalnya aku juga beda memperlakukan dia”.

“Kok aneh? Maksudnya?”

“Maksudnya ada niat-niat tertentu. Itu yang akau rasakan Ry, gak tahu maksudnya dia gimana? Siapa tahu kan aku yang GR?”

“Berarti nalurimu masih berfungsi”.

“Iiih… dasar! Ya masihlah. Makanya awal-awal aku agak males diajak jalan ama dia. Trus sampai suatu saat aku lagi patah hati banget. Aku critain sama dia. Dia tahu I’m single now”.

“Wow… terus?”

“Ya udah, dia mulai deket-deket lagi. Awalnya aku sebenernya males. Tapi ya udahlah, lumayan buat pelarian, hehe… Kan katanya untuk melupakan patah hati kita butuh pelarian. Jadi ya udah, seneng-senenglah aku ma dia”. 🙂

“Witing tresno jalaran…”

“Trus aku dimarahin temen-temenku, katanya sikapku ke Rio itu bukan aku banget. Aku bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo kayak gitu”.

“Kamu bukan tipe cewe yang suka mempermainkan cowo. Tapi tipe cewe yang suka dipermainkan cowo?”

“Heh! Aku critain dulu”

“Ok. Sory”

“Ya udah akhirnya aku sadar. Iya, kasihan Rio. Dia baik banget dan aku cuma mainin dia. Dan setelah itu, aku mulai merubah sikapku padanya. Pokoknya aku tegasin ke dia kalau aku nganggep dia cuma temen. Aku nangis-nangis di depan dia. Aku certain semuanya keadaanku sebenarnya. Kalau aku tu cuma butuh pelarian”.

“Trus sekarang dah cape lari-larinya?”

“Heh! Dengerin dulu. Padahal awalnya dia tu mancing-mancing banget deh. Aku sampe geli sendiri mendengarnya. Hahaha…”

“Mancing maksudnya?”

“Ya sampai akhirnya aku minta dia cariin cowo buat pelarian, eh dianya gak mau. Ya udah, akhirnya sekarang aku apa-apa ke dia. Beneran, aku bener-bener nganggep dia temen. Selalu menyadarkan kalau dia berhak mendapatkan orang yang lebih baik dari aku”.

“Baguslah, kalau kamu sadar diri, hehe…”

“Trus sampe akhirnya dia mulai nyritain cewe yang lagi deket ma dia. Ya, aku ndukung-ndukung gitu lah. Tapi kemarin sore dia kasih tau kalo dia tambah deket sama cewe itu. Dan aku sakit hati banget Ry, aku sampai gak bisa tidur semaleman. Aneh kan? Kenapa aku sakit hati? Aku kan cuma temennya.”

“Jadi sebenernya kamu itu juga ada rasa ‘suka’ ama dia”.

“Gak ah. Aku merasa sebentar lagi aku akan kehilangan dia”.

“Atau kalau gitu kamu tu sebenarnya masih ‘butuh’ dia. Gak mau dia segera meninggalkanmu”.

“Iya, aku gak mau kehilangan dia. Tapi aku terlambat mengerti Ry. Hikz… Dulu waktu dia masih suka, aku cuekin, aku pertegas kalau kita cuma temen. Sekarang? Hikz…”

“Kamu itu gak gampang suka sama seseorang, tapi kalau dah terlanjur suka juga sukar melupakannya?”

“Emang iya? Iya ya, temen-temenku juga bilang gitu. Memang awal-awalnya aku gak suka kok sama dia. Biasa aja. Huuufff… jadi sebel, kenapa dia perhatian banget siy?”

“Kamu itu tipe cewe yang gak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama”

“Hehehe… iya. Trus?”

“Kelemahanmu itu…”

“Apa?”

“Ya yang seperti dimanfaatkan Rio itu”.

“Apa? Emangnya Rio memanfaatkanku?”

“Bukan itu maksudku. Saat kamu merasa terpuruk karena sesuatu hal. Seperti butuh pelarian itu misalnya, seseorang yang saat itu ada untukmu, mengerti akan dirimu, selalu memperhatikannmu, mendengarkan semua keluhanmu, saat itu kamu merasa dekat dengan dia walaupun sebelumnya mungkin kamu tidak suka atau bahkan benci dirinya.”

“Iya Ry, sebenernya aku sulit juga nglupain mantanku dulu. Susah. Cuma saat itu ada Rio yang perhatiannya wuiiihhhh gilaaaa….perhatian buanget deh. Terus mantanku juga gak disini jadi lebih bisa cepet nglupain.”

“Kata orang sih cara mudah nglupain seseorang itu dengan cari pelarian.”

“Kalau aku terus-terusan cari pelarian kapan aku punya seseorang yang pasti Ry?

“Suatu saat dia akan datang pada waktu dan cara yang indah”.

“Hahahaha… Iya Ry. Tapi kenapa siy aku selalu terlambat mengerti? Mbok besuk lagi kalau ada cowo yang deket denganku aku diingetin Ry, biar gak terlambat”.

“Gak papa terlambat mengerti, kata orang lebih baik terlambat mengerti daripada tidak mengerti sama sekali, hehe… Trus gimana kabarnya Rio sekarang?”

“Dia masih tetap menjadi temen cowo terbaik di sini kok, masih tetep perhatian. 🙂 Cuma aku merasa kehilangan peluang terbaikku. Trus, apa saranmu?”

“Ya kalau kamu masih suka sama dia, jalani aja biasa apa adanya. Berharaplah dia terlambat pergi?”

“Maksudmu?”

“Ya gak papa kamu terlambat mengerti. Mudah-mudahan dia juga terlambat pergi sehingga masih ada waktu untuk bersamanya lagi”.

“Bukannya aku takut akan kehilangan dirimu tapi aku takut kehilangan cintamu…”

“Kamu nyannyi?”

“Nggak, cuma teriak-teriak ngusir tikus di kolong meja”.

“Oooo…”

“Percayalah pada apa yang kamu rasakan”.

“Nah gitu Ry, sebenere aku sering mengingkari perasaanku, juga karena itu. Aku tu gak pernah pede. Hehehe… Pasti gak percaya kan?”

“Saranku, jalani dulu apa adanya”.

“Iyo Ry, let it flow. Right?”

“Kalau dia bener-bener mencintaimu, dia akan kembali lagi untukmu”.

“Lah, kalau yang kembali banyak gimana Ry? Hahaha… Ngarep”

“Dan dia tak akan mungkin bisa melupakanmu walaupun dia bersama orang lain. Dan dia sedikitpun tak akan pernah membencimu walaupun dia tak pernah bisa memilikimu. Seandainya kesempatan itu ada, dia pasti ingin kembali lagi padamu”.

“Halah…kok jadi ada yang curhat colongan ya?”

“Heh! Siapa yang curhat colongan?”

“Hihihi… Iya Ry. Thank ya.”

“Kayaknya aku jadi terinspirasi bikin cerpen dari kisahmu. Judulnya ‘Maafkan Aku Terlambat Mengerti’. Bagus gak? Hehe…”

“Iya, tapi endingnya harus yang keren Ry. Akhirnya aku ketemu cowo yang bener-bener cinta mati dengan aku dan aku juga mencintainya tanpa lagi terlambat mengerti, hehe… Cowo itu Jacob Black bangetlah Ry. Hahaha… Ngarep”.

“???!!!!”

“Trus, akhirnya kami menikah, hidup berkecukupan, punya anak yang cakep-cakep dan bahagia selamanya. Hahaha…. Dongeng banget”.

“Eh, bangun-bangun!”

“Hehehe… Iya Ry, aku dah ngantuk ini mau tidur dulu, semalem sampe gak tidur lho, meratapi kesalahan ini. Pokoknya malem ini aku mau tidur sepuasnya. Biar besok aku bisa seharian bersamanya. Hahaha…”

“Ya udah, cepetan tidur sana! Semoga apa yang kamu jalani besuk bersamanya seperti apa yang kamu mimpikan malam ini”.

Entah apa yang terjadi dengan diriku saat itu, yang jelas apa yang aku rasakan saat ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Aku mulai berani berharap lagi. Berani merajut lagi mimpi-mimpiku yang telah pergi. Berani berharap setidaknya dia akan terlambat pergi walaupun sesaat. Dan yang pasti aku berani menatap masa depanku lagi. Iya benar, aku yakin suatu saat dia akan datang dengan cara yang indah pada waktu yang ditentukan oleh-Nya. Dan samar-samar masih terdengar alunan lagunya Dygta yang mulai tidak kucerna di telingaku.

Dan semua yang pernah kau berikan

T’lah membuka mataku untukmu

Kini ku mencintaimu memiliki dirimu

Dan waktu t’lah merubah segalanya

Masihkah dirimu mencintaiku

Maafkan aku, ku terlambat mengerti

Jakarta, 21 Feb 2009

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Bacalah di Kala Engkau Patah Hati Cerpen

5 Comments Add your own

  • 1. CunGKriNk  |  February 24, 2009 at 2:03 pm

    b’arti bner dunk kt pepatah, qta br tau seberapa berharganya seseorang setelah dy pgi…

    n satu lagi, tresno jalaran soko ngglibett…

    Reply
  • 2. fairuzdarin  |  February 24, 2009 at 4:07 pm

    Based on true story, ya? 😛

    Reply
  • 3. Pichan  |  February 24, 2009 at 4:48 pm

    kreatif banget… aku mau klo mustpar ada cerita lagi, aku mau dikabarin lagi..

    untuk “maafkan aku…”, kurasa ga ada akta terlambat untuk maya ngungkapin perasaanya ke Roy, terlepas Roy akan kembali pada Maya ato ga, yang pasti rasanya ga enak banget klo ada perasaan yang amsih dipendam.

    em, soal cerita, rasanya kurang fokus, aku udah tegang2 pengen baca bagian bawahnya lagi untuk tau gimana akhirnya… eh, kok ngegantung gini, kecewa deh… padahal pengen tau, gimana akhirnya Maya-Roy itu…

    Reply
  • 4. Shining Phoenix  |  February 28, 2009 at 6:55 am

    witing tresno jalaran soko kepekso. Cinta Ibarat Api menghangatkan tapi jika tidak hati2 dapat membakar. Cinta ibarat air. Menyejukkan, tapi jika tidak hati2 dapat menenggelamkan. Cinta sejati selalu berharap dapat memberi tanpa harus memiliki. Hanya saja, untuk dapat leluasa memberi, kita sebaiknya memiliki.

    Reply
  • 5. endahhh  |  March 4, 2009 at 1:37 pm

    Jare aku kon moco, tapi pas wes moco, ppo to maksude? Kok rodo2 mumet yo mocone…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


February 2009
M T W T F S S
« Dec   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Archives

Recent Posts


%d bloggers like this: