Copettt!!!

December 23, 2008 at 7:51 am 7 comments

 

                Mungkin Anda pernah mendengar orang berteriak meneriakkan kalimat itu, mungkin pula anda yang mengalaminya sendiri, atau mungkin anda sendiri yang diteriaki orang dengan kalimat itu. Teriakan tersebut bukan sekedar teriakan seperti teriakan latah endahhh memanggil bosnya, bukan pula teriakan anas memperkenalkan dirinya, namun teriakan spontan penuh ekspresi, penuh emosi, dan penuh energi atas bercampurnya berbagai rasa kaget, marah, benci, yang bisa bermakna makian, pemberitahuan, ataupun minta bantuan.

                Dalam perjalanan naik Transjakarta dari Kalideres ke Cempaka Baru hari minggu kemarin, aku sengaja turun di halte kwitang untuk membelikan buku seorang teman. Pulangnya aku naik bus kota merk Metromini type 47. Setelah sekitar dua menit nunggu di halte depan Pasar Senen, akhirnya metromini 47 datang. Aku bersama beberapa penumpang lainnya naik. Aku naik lewat pintu depan dan seoarang bapak (sebut saja bapak A) naik lewat pintu belakang. Saat naik itu kulihat di bangku panjang paling belakang telah terisi tiga orang laki-laki (misalkan saja K, L, M). Bangku depannya sebelah kanan telah diduduki seorang laki-laki (sebut saja N), sehingga masing kosong satu, maka seorang bapak yang naik lewat pintu belakang tadi (bapak A) dipersilakan duduk di sebelah laki-laki tersebut dekat jendela. Sedangkan bangku persis di depannya telah terisi penuh. Di depan laki-laki N tadi dudu seorang laki-laki (sebut saja O) dan seorang penumpang lain dekat jendela. Di deretan bangku depan dan juga sebelah kiri bus telah terisi penuh, maka dari pintu depan aku terus saja ke belakang, bermaksud duduk di bangku paling belakang bersama tiga lelaki yang telah ku sebutkan tadi (K, L, dan M).

                Saat berjalan ke belakang tersebut, laki-laki N berdiri. Saat persis di sebelah laki-laki O tadi, laki-laki O tersebut seperti hendak mengambil sesuatu di dekat kaki kiriku. Namun tidak, ternyata dia menarik-narik bagian bawah celana jeanku di kaki kiriku. Bersamaan dengan itu laki-laki N berjalan lewat sebelah kananku seperti mau ke bagian depan bis. Saat itulah tangan kanan laki laki N tersebut merogoh saku depan celana jeanku. Dan itu prosesnya berjalan sangat cepat, bersamaan, terorganisir rapi, seperti sudah berulang kali dipraktekkan sehingga nyaris tanpa cacat.

                Saat itu aku sempat memperhatikan laki-laki O yang menarik-narik celana jeanku itu dalam waktu sepersekian detik. Namun, secara reflek mataku langsung melihat lelaki N di sebelahku dan tangan kiriku memegang saku kanan depan celana jeanku, sedangkan tangan kananku memegang saku celana bagian belakang sebelah kanan yang berisi dompet. Saat tangan kiriku memegang saku depan itualah ternyata tangan laki-laki N tersebut sudah di sana hendak mengambil LG KU 990 R milikku. Namun ternyata geraknya kalah cepat dengan gerak reflekku. Saat itu aku berteriak, namaun tidak meneriakkan kata copet. Aku cuma memanggil “Bang…!!” hanya kata itu dan tidak jadi aku lanjutin. Sebenarnya mau aku tanya “Bang, mau ngapain!!” Untuk sementara aksi laki-laki N tersebut tidak berhasil.

                Jika saja aku terpancing memperhatikan ulah lelaki O –yang tidak jelas tadi yang mungkin hanya ingin mengalihkan perhatianku—dalam hitungan lebih dari satu detik mungkin ceritanya akan lain. Karena semua itu berjalan sangat cepat, seperti keahlian yang telah yang telah melekat erat, berulang kali diperbuat sehingga nyaris tanpa cacat. Setelah gagal melakukan aksinya tersebut laki-laki N tadi kembali ke tempat duduknya. Dan aku laki-laki O diam di tempat duduknya seperti tidak terjadi apa-apa. Namun aku yakin, sebenarnya penumpang lain di sebelah kananku tadi dan juga tiga penumpang laki-laki di bagian belakang tadi juga tahu akan hal itu. Namun, mereka juga bersikap tidak terjadi apa-apa. Dan aku pun demikian, seperti tidak terjadi apa-apa aku lanjut langkahku menuju bangku belakang dan duduk diantara tiga laki-laki tadi.

                Aku duduk dengan posisi masih membawa tas punggung di bagian belakang. Posisi dudukku aku di dekat pintu, namun di sebelah kiriku masih ada satu orang (sebut saja laki-laki K) dan sebelah kananku dua orang laki-laki (sebut saja L dan M). Entah sengaja atau ada keperluan apa, laki-laki K ini seperti mau memegang tasku yang masih ku gendongkan di punggunggku. Secara reflek juga aku langsung melepas tasku dan aku pangku di depan, tanpa menaruh curiga sedikitpun pada orang ini. Dua orang pecundang tadi (laki-laki N dan O) masih sering kali menolah ke belakang memperhatikanku, atau mungkin memperhatikan tiga orang di sebelahku. Namun tetap terus aku lihatin dia, dan aku perhatikan terus gerak-geriknya. Sempat kepikiran aku mengeluarkan hpku untuk memotret mereka karena masih terus-terusan melihat ke arahku.

                Dalam jarak perjalanan sebelum mencapai fly over galur beberapa penumpang naik, termasuk dua orang pemuda (sebut saja B dan C) yang berdiri di bagian belakang karena tidak mendapat tempat duduk. Saat bus akan menaiki fly over galur, pecundang N tadi menepukkan kedua tangannya dua kali, mungkin memberikan kode kepada sopir untuk berhenti sebentar karena mau turun. Saat inilah laki-laki yang duduk di sebelah kananku tadi (L) juga ikut berdiri mungkin akan ikut turun juga. Ternyata ia berdiri di samping pemuda B tadi dan agak sedikit menghalangi pandanganku. Namun, aku masih bisa melihat saat tangan pecundang N tadi mencoba merogoh saku celana pemuda B tadi. Aku terus memperhatikan aksi pecundang N tadi dan mungkin dia juga sempat melihatku menonton aksinya lagi. Dan itu prosesnya sangat cepat, lebih cepat daripada anda membaca paragraph ini, ya kira-kira selama rentang waktu sopir mengerem bis yang berjalan tidak begitu cepat hingga bis berhenti.

                Dan lagi-lagi laki-laki N tersebut menjadi pecundang untuk kesekian kalinya karena gagal menjalankan misinya. Ternyata saku celana pemuda B tadi tidak ada HP ataupun barang lain yang bisa diambil menurut perkiraanku karena sekilas aku juga melihat nggak ada sesuatu. Atau mungkin pecundang N tersebut mengurungkan niatnya karena telah ketahuan olehku dan pemuda C di dekatnya. Selenjutnya laki-laki N tersebut turun diikuti laki-laki O, L, M dan terakhir K yang duduk diam saja di sebelah kiriku. Ternyata mereka berlima satu komplotan.

                Setelah mereka turun, pemuda C tadi duduk di sebelahku dan di sebelahnya duduk pemuda B yang bernasib mujur tadi. Aku bilang kepada pemuda B “Bang, tadi lihat nggak masnya (pemuda C yang ku maksud) mau dicopet tadi?” “Iya” jawabnya sambil menganggukkan kepala. “Ternyata mereka berlima, kirain cuma dua orang tadi yang mau nyopet saya juga” lanjutku. Sedangkan pemuda C di sebelahnya kulihat hanya plenggang-plenggong seperti baru saja sadar bahwa bahaya telah mengintainya telah lolos darinya.

                Dalam hati aku bersyukur pertama karena aku tidak jadi kecopetan, dan selama ini aku memang belum pernah kecopetan (ataupun mencopet) dan semoga tidak akan pernah merasakan kecopetan. Yang kedua karena aku mengurungkan niatku untuk memotret pecundang N dan O tadi. Kalau saja aku potret mungkin saja ketiga laki-laki yang ada di sebelahku tidak akan tinggal diam karena ternyata mereka bertiga adalah temannya.

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Lagi-Lagi… Bacalah di Kala Engkau Patah Hati

7 Comments Add your own

  • 1. CunGKriNk  |  December 23, 2008 at 3:49 pm

    weleh must, ternyata acr beli bukumu sarat dengan cerita dan perjuangan,
    bole g knalan ama mas copetnya??

    untung pean g sido kecopetan, nek nagnti sido, aq g cm ganti harga buku niy, iso2 ditagih plus harga LG…

    akhire aq buka jg tho blogmu…

    ki critane hedonisme uda mewabah di humas tho…rapopolah penting hedone g keno wabah humasisme…

    Reply
  • 2. mustphar  |  December 23, 2008 at 5:18 pm

    rapopo tux, penting kan gak jadi kecopetan. iso dadi bahan ceritra juga ta neng blogku…

    humasisme iku konotasine positif tux, dadi gakpopo yen disebarkan…

    Reply
  • 3. mustphar  |  December 23, 2008 at 5:18 pm

    rapopo tux, penting kan gak jadi kecopetan. iso dadi bahan ceritra juga ta neng blogku…

    humasisme iku konotasine positif tux, dadi gakpopo yen disebarkan…

    yo matur suwun, wes mampir neng blogku.

    Reply
  • 4. fairuzdarin  |  December 23, 2008 at 9:46 pm

    Waaa.. Hebat, Must. Akhirnya aku tetep pemegang rekor kecopetan terbanyak di humas. Semoga ga ada yang melampaui rekorku. Dan semoga aku ga memecahkan rekor lagi..

    Reply
  • 5. fauziah85  |  December 30, 2008 at 2:42 pm

    Aku juga pernah hampir kecopetan, di 47 juga, 2 kali malah!

    Yang pertama, tasku dah disilet. Tapi alhamdulillah, copetnya ga sempet ngambil apa2.

    Yang kedua, bapak2 gitu, tangnnya dah ngerogoh tas-ku. Tapi kebetulan aku lagi nge-depanin tasku, begitu liat bapak itu, aku memekik tertahan “Pak!” (maksudku sih, ‘Pak, apa-apaan sih!’). Eh, bapaknya malah balik ngebentak aku. Untunglah, aku dah mau turun, jadi ga jadi tengkar lama2.

    Sekarang jadi trauma ma tas tali pendek yang dikempit di ketiak itu. Mending yang talinya panjang sekalian, susah ngerogohnya (tapi resikonya jadi dijambret, bukan dicopet. Duh…)

    Reply
  • 6. dheminto  |  February 16, 2009 at 8:19 am

    untung dech…gak jadi kecopetan!
    salam kenal ya

    Reply
  • 7. melly  |  February 23, 2009 at 8:41 am

    aku hampir pernah 😦
    palagi waktu itu baru gajian,jd aku baru ambil uang..
    kejadiannya di dalem angkot,mereka berkomplotan gitu berlima

    udah badan copet itu gede,aku disuruh duduk dipojokan,walah untung aku berfikiran negatif trhadap mereka 😀
    sebelum sampe tujuan aku dah turun duluan bersama 3 penumpang laen yg juga merasakan hal yang sama terancam dicopet.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


December 2008
M T W T F S S
« Apr   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Recent Posts


%d bloggers like this: