Me vs High Heel

December 16, 2008 at 7:05 am 3 comments

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin mengajukan pernyataan: “Bagi sebagian orang, high heel adalah musibah”. Jangan buru-buru protes dulu, ini kan hanya usulan kepada forum, kalau diterima ya silakan, kalau tidak diterima ya jangan. Ini hanya pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili instansi di mana penulis bekerja. Kalian boleh setuju atau pun tidak. Kalau setuju silakan angkat tangan, kalau tidak setuju silakan angkat kaki.

Akan aku ceritakan kepada kalian suatu kisah mengenai high heel yang juga dialami oleh temen kita sendiri. Untuk kali ini kuceritakan kisah Nobita Ndhut yang kemarin telah aku perkenalkan kepada kalian. Namun sebelumnya aku ingin memberitahukan kepada kalian bahwa kedepannya nama Nobita Ndhut akan diganti dengan chuantique. Dibaca: canti’, diucapkan seperti kalau kita membaca huruf arab atau huruf hijaiyah yang berakhiran hamzah mati atau hamzah sukun. Sebenarnya penggantian nama ini ada sejarahnya tersendiri, mungkin nanti kalau ada waktu akan aku ceritakan kepada kalian dalam artikel tersendiri. Namun, secara singkat dapat aku jelaskan pokoknya yang empunya nama tidak mau kalau dipanggil Ndhut, dan merasa pantas dipanggil chuantique—ingat tetep diucapkan seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya.

Setelah membaca tulisanku kemarin, chuantique marah-marah dan gak terima kalau dirinya dipanggil Nobita Ndhut. Dan tentu saja aku yang jadi korbannya. Kalau kemarin aku pernah menggambarkan mb pi kalau pasang tampang marah itu seperti harimau betina yang sedang kehilangan seekor anaknya, yang ini lebih galak lagi hingga sulit aku menggambarkannya. Mungkin kalau dapat aku umpamakan seperti singa betina yang kehilangan dua ekor anaknya, habis itu ditinggal selingkuh pejantannya, kemudian ditangkap manusia beramai-ramai dan dibawa ke kota, dimasukkan dalam kerangkeng kawat yang kuat dan tidak dikasih makan selama satu bulan. Kemudian salah satu diantara kalian dipaksa masuk kedalam kerangkeng tersebut. Saat itulah kalian akan menyaksikan sendiri seperti apa seekor singa betina yang sudah meninggal dunia.

Waktu itu chuantique sedang menghadiri pernikahan salah seorang teman kami di Jakarta Selatan. Chuantique berangkat ke sana bersama dua orang temannya, yaitu westy dan kiky’ (mbacanya sama kaya canti’ tadi). Untuk acara tersebut chuatique memakai pakaian baru dengan sepatu hak tinggi yang juga baru. Kalau kalian ingin tahu seperti apa sepatunya dapat dilihat pada photo yang di bawah. Nah, mungkin karena baru kali ini pakai sepatu hak tinggi atau karena sepatunya yang masih baru, dalam perjalanan pulang yang waktu itu naik transjakarta busway, sepatu tersebut memakan korban. Saat berdiri di dalam busway karena nggak dapat tempat duduk, kaki kiky’ keinjek chuantique yang memakai sepatu hak tinggi tersebut. Kalian tentu saja bisa membayangkan seperti apa rasanya.

Dalam ilmu fisika kita kenal dengan istilah tekanan. Tekanan dirumuskan dengan gaya yang diberikan dibagi dengan luas bidang tekan. Maka semakin besar gaya yang diberikan, tekanan yang diderita akan semakin besar. Demikian sebaliknya semakin kecil luas bidang tekan, tekanan yang diderita justru semakin besar. Dalam hal ini yang bertindak sebagai gaya adalah berat orang yang memakai sepatu hak tinggi tersebut, sedangkan luas bidang tekan adalah luas hak sepatu yang menyentuh lantai. Anda bisa membayangkan, seorang pria yang memakai sepatu pria dengan seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi akan memberikan tekanan yang berbeda besarnya terhadap lantai yang dipijaknya. Luas alas sepatu pria yang menyentuh lantai bisa seratus kali lebih luas dari luas hak sepatu wanita yang menyentuh lantai. Jadi dapat dipastikan, dengan berat badan yang sama, seorang wanita yang memakai sepatu hak tinggi akan memberikan tekanan kepada lantai yang dipijaknya seratus kali lebih besar daripada seorang pria yang memakai sepatu pria biasa. Bayangkanlah. Itulah mengapa kalau kita menjinjing barang dengan tali yang kecil akan terasa lebih sakit daripada menggunakan tali yang lebih besar.

Itulah kawan. Aku hanya ingin sedikit membantu kalian melihat hal itu dari sudut pandang ilmu fisika. Kalau seperti apa yang dirasakan kiky’ saat peristiwa tersebut aku tidaklah tahu pasti. Kalian lebih bisa mengira-ira dan membayangkan sendiri. Namun, kalian nggak usah sampai nanya berapa berat badan chuantique untuk menghitung gaya tekannya. Cukup kalian simpan dalam hati saja. Aku akan ceritakan cerita yang lain pada kalian. Waktu itu chuantique sandalnya yang baru. Seperti kataku tadi tiap chuantique punya sandal ataupun sepatu baru pasti akan memakan korban. Kali ini yang jadi korbannya adalah mustphar. Entah karena sengaja ingin memamerkan sandal barunya, atau sudah lama tidak main bola, atau memang karena mustphar yang kurang ajar, chuantique menendang mustphar hingga kena tulang keringnya.

Terakhir kali saat balik dari kantin Itjen. Kali ini korbannya mb pi. Setelah selesai makan siang di kantin, bareng-bareng chuantique, endahhh, reni, mb pi, citra, mustphar dan mazecho kembali ke kantor. Di perjalanan saat menuruni tangga dari lantai dua gedung itjen terjadilah peristiwa tersebut. Chuantique nginjek (lagi) kaki mb pi. Kalian pasti akan menebak kalau chuantique pakai sepatu baru. Untuk kali ini tebakan kalian memang benar. Mula-mula mb pi cuma tahu kalau kakinya diinjek chuantique, setelah di kantor ternyata mb pi baru sadar kalau kakinya berdarah.

Itulah kawan mengapa tadi aku bilang kalau bagi sebagian orang, high heel adalah musibah. Bukan musibah bagi yang memakai namun musibah bagi orang lain. Itulah, maka kalau chuantique memakai high heels aku merasa kasihan dengan yang jalan didekatnya. Begitu juga kalau citra memakai high heels, aku merasa iba terhadap yang jalan bersamanya.

high heel

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Hedonis Mode: On Belajar dari Antara, detikcom dan Singapura

3 Comments Add your own

  • 1. novasha  |  December 16, 2008 at 7:41 am

    mungkin perlu segera diselenggarakan pelatihan memakai high heels yang aman dan nyaman agar tidak memakan korban.

    Reply
  • 2. mb pi  |  December 16, 2008 at 9:07 am

    mau aku ajarin Nob???

    tapi moso sing ngajari ‘cowo’???hehehe…
    harusnya malu dunk…hihihi…

    Reply
  • 3. fauziah85  |  December 17, 2008 at 10:51 am

    Jadi inget mbak kosan dulu yang bisa dengan enaknya pake high heels di dalam kereta ekonomi, dan bersamaku meloncat dari pintunya yang tingginya hampir 1,5 meter dari tanah, lalu mendarat dengan mulusnya tanpa mengalami patah kaki. Bagiku beliau keren sekali, dan menginspirasiku untuk tetap bisa berlari meski sedang memakai sepatu hak tinggi. (ga penting banget deh!)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


December 2008
M T W T F S S
« Apr   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Archives

Recent Posts


%d bloggers like this: