Cinta Fitria (Episode #27): Pray-Boy

“Must, kemarin kamu bilang apa? Kekuranganku cuma satu?” tanya Anas tiba-tiba.

“Iya, kurang ajar”

“Maksudmu?” tanya Anas dengan nada tinggi tanda tak terima.

“Terima saja, itu sudah menjadi garis tangan” kataku.

Sebenarnya tidak adil juga mengatakan Anas demikian. Tapi mau gimana lagi, image yang diciptakan sendiri emang begitu. Anas anak yang baik, aku kenal dia lebih dari tiga tahun. Namun, ada satu hal yang sulit diubah di tempat kerja kami, image.

Kami bekerja di bagian yang menangani kehumasan. Satu hal yang menjadi keahlian orang-orang humas yaitu mengenai pencitraan. Mereka dituntut bisa mencitrakan unit organisasi di tempatnya bekerja sesuai dengan visi organisasi tersebut. Berbekal pengalaman akan hal itu, maka tak heran bila mereka pun pandai mencitrakan diri sendiri. Hal itulah yang juga berlaku di tempat kami. Bahkan, beberapa orang pun suka dan memang ahli berperan dalam mencitrakan orang lain—selanjutnya kita sebut dengan pembunuhan karakter.

Anas adalah salah satu korban pencitraan. Bagaimana tidak? Image kurang baik yang melekat pada dirinya masih tetap terjaga sampai sekarang. Dulu dia pernah mempopulerkan dirinya sebagai pray-boy. Dengan bantuan seorang teman dia membuat suatu blog khusus untuk mempopulerkan dirinya. Namun, siapa sangka malang tak dapat ditolak, untung tak boleh diraih, hal itu menjadi boomerang bagi dirinya. Bukan hanya karena dia yang kurang fasih melafalkan, kemungkinan memang tampangnya juga sudah mendukung. Seperti anak kecil yang baru belajar ngomong, belum bisa mengeja huruf abjad secara lancar. Apalari kalau disuruh melafalkan abjad yang sulit seperti r (er), maka akan dilafalkan sebagai l (el). Kita menyebutnya dengan istilah cadel. Maka teman-teman Anas tiba-tiba menjadi cadel bila harus menyebut Anas sebagai pray-boy.

Sudah aku ceritakan di depan bagaimana tingkah laku Anas ketika melihat wanita cantik berjalan di depannya, bagaimana sikap Anas bila satu lift dengan wanita cantik, bagaimana reaksi Anas bila melihat wanita cantik di mall dan tempat umum lainnya. Hal itulah yang menjadi modal pendukung bagi Anas untuk terus menyandang gelar barunya. Namanya juga korban pencitraan, ada korban berarti ada juga pelakunya. Kalau kata Bang Napi kejahatan itu bukan semata-mata karena niat pelakunya, tetapi bisa juga karena ada kesempatan. Maka pihak korban terkadang tanpa sadar telah menyeret dirinya ke dalam tindak kejahatan.

Ketika Anas mendapat tugas keluar kota temen-temennya selalu berpesan: Nas, ingat yang di rumah, kalau macem-macem aku bilangin lho. Kalau aku beda lagi pesan yang aku berikan. Misalnya saat Anas bertugas melakukan kegiatan peliputan di Bandung yang pesertanya anak-anak SMA di sana, tidak cukup menurutku kalau hanya berpesan : Nas, ingat yang di rumah, makanya aku bisanya menambahkan: Nas, ingat yang di rumah, ingat yang di kantor, ingat yang di kampus, ingat yang di kampung.

“Bukan begitu Nas, yang penting sekarang kan kamu tahu apa kekuranganmu. Kata bos, kita harus tahu apa kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Dan carilah pasangan seseorang yang bisa menutupi apa kekuranganmu. Misalnya kamu seorang yang cerewet, carilah seorang yang mau mendengar semua ocehanmu. Bila kamu hobi makan, carilah pasangan yang hobi masak. Andaikan kamu kurang tinggi, carilah pasangan yang tinggi biar tak perlu jinjit bila harus mengganti lampu. Begitu juga misalnya kamu merasa kurang cakep, carilah pasangan yang cakep biar ada harapan untuk keturunanmu. Haha…”

“Berarti kalau aku kurang ajar harus nyari pasangan seorang dosen?”

“Bukan! Guru karate”.

(Bersambung)

Advertisements

January 8, 2011 at 4:07 pm 9 comments

Cinta Fitria (Episode #26): Sajak Cinta untuk Fitria

demi cintaku padamu,
‘kan ku tembus langit tak berujung
‘kan ku jelajahi penjuru bumi

demi kau bahagia,
‘kan kudaki Gunung Himalaya
‘kan kulintasi Gurun Sahara
‘kan kusebrangi Samudra Hindia

Itu sms bait puisi yang dikirimkan Anas untuk Fitria tadi pagi. Setiap hari Anas berusaha bangun lebih pagi. Dia selalu mengirimkan kata-kata kepada Fitria dengan tujuan saat Fitria membuka mata, yang pertama kali dibaca adalah sms darinya. Bahkan sekedar ucapan selamat pagi tak pernah absen diucapkan kepadanya.

Raguku kau bisa buatku bahagia

Itu balasan sms yang didapat Anas dari Fitria, tak seperti yang di duga sebelumnya. Akhirnya dia memberanikan diri menanyakannya kenapa Fitria meragukan dirinya untuk membuat Fitria bahagia. Fitria menjawab pertanyaan Anas dengan mengirimkan sebait puisi.

Bagaimana bisa aku bahagia?
Saat pagi kubuka mata, mungkin kau di tengah samudera
Saat rindu seketika ingin jumpa, kau tengah melintasi gurun sahara
Setiap hari aku sendiri, karena kau jelajahi penjuru bumi

****

Pagi itu seperti biasa aku, Anas dan temen-temen se-gank sarapan di warung makan pojok. Di situ Anas menceritakan semuanya kepaku tentang sms-nya kepada Fitria tadi pagi. Sebenarnya aku pengen ketawa tetapi tak tega melihat wajah Anas yang memelas. Akhirnya, aku membiarkan dia melanjutkan ceritanya, melontarkan sedikit penyesalan akan dirinya.

“Must, menurutmu kata-kataku tadi gombal gak?”

“Gombal banget”

“Tapi, bukankah cewek seneng digombalin?”

“Kalau tidak boleh dibilang semua, sebagian besar cewek emang suka digombalin. Gombal kan biasanya identik dengan pujian atau pun sanjungan. Pada dasarnya semua orang suka dipuji, tidak hanya cewek”.

“Tapi Fitria kok gak suka kayaknya?”

“Jangan salahkan teori, masalahnya kan kita gak tau Fitria cewek atau bukan. Haha…”

“Dasar lo”.

“Begini, itu kan hanya reaksinya saja. Senang atau tidak kan masalah hati. Bisa saja dia suka tapi mengekspresikan seperti marah atau pun ekspresi lainnya. Atau mungkin benar dia memang tidak suka kamu kirimin kata-kata demikian, dan kalaupun dia tidak suka itu  sah-sah saja. Tidak salah, tidak juga aneh. Orang bebas suka atau tidak akan suatu hal, tidak ada yang nglarang.”

“Menurutmu aku kurang apa?”

“Kurang apa ya? Kayaknya gak ada yang kurang. Cakep… sudah, pinter… apa lagi, baik hati, suka menolong, rajin menabung. Hmmm, menurutku kamu kurangnya cuma satu”.

“Kurang apa must?”

“Kurang ajar!”

Aku tak bisa melihat bagaimana ekspresi Anas ketika aku menjawabnya demikian, aku langsung sembunyi di kolong meja, takut dilempar gelas, piring atau semacamnya. Tak enak juga ngeledekin Anas terus-terusan.

“Nas, sini pinjem HP-mu”

“Buat apa?”

“Aku bantu ngomong sama Fitria.”

“Lho, bukannya HP-ku kamu bawa. Kemarin kan kita tukeran HP pas pulsaku habis”.

“Lah? Yang kamu pakai buat SMS Fitria tadi HP-nya siapa?”

“Oh, iya. HP-mu berarti. Haha…”

“Wah, kacau kamu. Ya sudah, mana HP-ku? Sini!”

Aku menuliskan sebaik sajak untuk Fitria, melanjutkan puisi yang tadi pagi dikirimkan oleh Anas.

Ada bait yang hilang dari sajakku pagi tadi
Kan kubawa serta dirimu ke manapun aku pergi
Dengan suka atau terpaksa

(Bersambung)

January 3, 2011 at 5:09 pm 18 comments

Cinta Fitria (Episode #25): Humoris, Puitis dan Romantis

Malam itu sebelum tidur Anas mengirimkan SMS kepada Fitria. Entah dari mana dia bisa mendapatkan nomor HP Fitria, yang jelas hal itu bukanlah sesuatu yang sulit bagi seorang Anas. Untuk menarik perhatian Fitria tentunya, seperti yang pernah dilakukan Anas pada cewek yang pernah menjadi incarannya sebelumnya. Biasanya dia akan mengirimkan puisi ataupun kata-kata yang dirasa bisa menyentuh hati cewek itu. Seperti teori Anas yang pernah dikatakan kepadaku bahwasanya cewek itu suka pada cowok yang puitis. Itu menurut pengalaman Anas.

Anas mengetikkan sesuatu dengan keypad handphone-nya. Setelah dirasa cukup dia mengirimkannya kepada Fitria.

“Layaknya bintang di langit, kau beri cahaya yang menyejukkan kalbu. Jadilah bintang dan aku akan menjadi bulan yang selalu setia kepadamu”

Sambil harap-harap cemas menunggu balasan SMS dari Fitria, Anas membuka-buka status facebook Fitria dan juga teman-temannya dan memberikan komentar bila dirasa perlu. Anas memang jagonya bikin kata-kata. Gak tahu bagus atau tidak, yang jelas selama ini dia selalu sukses dengan apa yang direncanakannya.

Jadi teringat waktu masih muda dulu, gara-gara jatuh cinta, aku yang biasanya biasa saja jadi mahir merangkai kata-kata, jadi ahli bikin puisi. Mendadak pujangga. Tiap hari aku bisa merangkai hingga berpuluh pulung puisi untuk sang pujaan hati. Benar kata orang bahwa energi cinta memang tidak ada duanya. Jangankan puisi, cerpen pun bisa aku tulis dalam sehari, padahal sebelumnya tidak ada bakat mengarang sedikitpun. Walapun aku juga tidak yakin puisiku bagus atau tidak yang jelas cinta bisa merubah segalanya, termasuk soal bikin puisi aku telah menulis ribuan puisi untuk sang pujaan hati, walaupun sampai saat ini aku merasa masih terlalu berharga untuk aku kirimkan kepadanya. Begitu juga bila bertemu dengan sang pujaan hati, entah energi dari mana, tiba-tiba ribuan bait puisi bertebaran di benakku. Namun tak sebait pun bisa kutangkap, tak sebaris pun mampu kuungkap. Akhirnya ku pilih puisi lamaku: Diam adalah Puisiku.

Dering telepon terdengar dari HP anas tanda ada SMS masuk. Seketika pikiran Anas langsung menebak pasti balasan SMS dari Fitria. Ternyata benar.

“Bulan selalu setia pada seribu bintang”.

Agak bingung Anas membaca balasan SMS dari Fitria. Tak menyangka dia akan mendapat balasan seperti itu. Anas berpikir keras. Karena belum dapat ide, dia mengirimkan sms dia ke Fitria dan sms balasan dari Fitria kepada sahabatnya, Mustphar, barangkali bisa membantu.

Seribu bintang menunggu kehadiran bulan, hanya satu bintang yang selalu dirindukannya”.

Itu kalimat yang dikirimkan oleh mustphar. Tanpa pikir panjang, Anas mem-fordward SMS dari mustphar ke nomornya Fitria. Berapa detik kemudian, datang balasan dari Fitria.

“Bintang akan selalu bersinar tanpa adanya bulan, bintang tak butuh cahaya bulan”.

Selanjutnya seperti tadi, dia forward SMS Fitria ke mustphar. Mustphar mengutip bait lagu Padi yang berjudul “Kasih Tak Sampai”–dengan maksud menyindir Anas– kemudian mengirimkannya kepada Anas agar diteruskan ke Fitria untuk membalas smsnya.

“Tetaplah menjadi bintang di langit, agar cinta kita akan abadi…”

Anas misuh-misuh mendapat saran seperti itu dari mustphar, betapa itu dirasa meremehkannya. Akhirnya Anas tidak jadi membalas SMS Fitria, dia memikirkan cara lain. Dan Anas tak akan berhenti sampai di situ.

Akhirnya aku berkesimpulan bahwa tidak semua cewek suka dengan cowok yang puitis, romantis ataupun humoris. Mungkin pada dasarnya semua suka tapi tidak dengan cara seperti itu. Puisi misalnya, tidak semua cewek suka dikirimi puisi. Kalau dasarnya dia emang suka kepadamu mungkin jadi tambah suka bila kamu kirimkan puisi kepadanya, tapi kalau tidak ada rasa apa-apa tiba-tiba kamu kirimkan puisi mungkin dia malah akan ilfil, dan menjauh kepadamu, karena merasa tidak nyaman. Jadi bukan karena puisinya, tetapi siapa yang mengirimkannya.

Seperti halnya cowok romantis tak selalu disukai cewek. Cewek memang suka bila menpatkan perlakuan yang romantis, tetapi dari pasangannya. Jika baru kenal trus kamu melakukan hal-hal yang romantis kepada seorang cewek, bisa-bisa kamu dilempar sendal atau diceburkan ke dalam got.

Begitu juga dengan cowok humoris akan mendapat tempat tersendiri di hati cewek. Itu yang aku pelajari selama ini. Asal bila membuat homur jangan humor yang jorok, tetapi buatlah humor yang intelek.

Teman-teman mungkin masih inget, dulu aku pernah mengatakan bahwasanya pria yang cerdas itu disukai oleh wanita. Dan pria yang humoris, puitis ataupun romantis ini menurutku termasuk kategori pria yang cerdas. Maka saya akan mengatakan bahwa Raditya Dika, penulis buku “Kambing Jantan, Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh” adalah orang yang cerdas, walaupun menyebut dirinya sendiri pelajar bodoh, dan orang-orang menyebutnya Radit bego. Dengan nada yang sama, saya menyebut Tukul Arwana–yang dulu pernah menjadi presenter Empat Mata di salah satu televisi swasta–juga sebagai seorang yang cerdas walaupun terkenal dengan katrok dan ndeso-nya. Tak mudah membuat orang lain tersenyum, apalagi tertawa, dan mereka dengan lelucon segar mampu melakukan hal itu.

Maka puisikanlah kata hatimu, puitiskanlah kata-kata cintamu. Puisi bukan gombal. Puisi dari hati, gombal dari sampah. Puisi menyentuh hati, gombal mengundang tawa.

(Bersambung)

December 19, 2010 at 4:39 pm 17 comments

Cinta Fitria (Episode #24): Teori Tentang Wanita

Anas adalah penakluk wanita, dipuja banyak wanita. Itulah yang dikatakannya bahkan kepada pacarnya. Atau mungkin itulah kata-kata yang digunakannya untuk menaklukkan wanita. Mengatakan kalau dirinyalah lelaki hebat yang menjadi idaman para wanita, dipuja banyak wanita, tua-muda, miskin-kaya, di desa ataupun di kota. Jika wanita percaya dengan kata-katanya, maka akan merasa bangga karena menjadi satu-satunya wanita yang menjadi pilihannya. Sungguh suatu anugerah yang istimewa untuk Anas, dan untuk wanita yang menjadi pilihannya.

“Kamu jangan iri must, ini sudah jadi resikoku” itu kata Anas berulang kali kepadaku.

“Kamu enak, tidak menanggung resiko itu” lanjut Anas maksudnya menyindirku.

Aku pun masih penasaran penasaran sebenarnya apa yang disukai wanita dari para pria. Mungkin Anas punya semuanya, tampang yang keren, otak yang cemerlang, harta atau mungkin juga kata-kata. Yang aku maksud kata-kata di sini seperti pinter merayu, ngegombal ataupun semacamnya yang jelas bisa membuat wanita lupa segalanya bahkan asal-usulnya. Tapi yang aku pengen tahu, dari kesemua faktor itu apakah sebenarnya yang paling dominan.

Sekali lagi aku berteori. Secara umum, kalau aku perhatikan sebenarnya wanita itu lebih suka laki-laki yang cerdas, bukan laki-laki yang tampan. Kalau ibu-ibu biasanya lebih suka ngudang anaknya, besuk kalau dah besar jadilah orang yang pintar kayak BJ Habibie misalnya, bukan jadilah orang yang ganteng kayak artis ibukota. Jadi wanita lebih suka laki-laki yang cerdas kan? Cerdas itu beda dengan pintar. Kalau pintar itu lebih ke IQ, kalau cerdas lebih ke EQ. Pinter itu kalau disekolah kamu bisa mendapat nilai Matematika yang bagus, cerdas itu kalau disekolah bisa terpilih menjadi ketua OSIS. Pinter itu kalau kamu bisa dengan mudah menyerap informasi, cerdas itu bila kamu bisa memanfaatkan dengan baik informasi yang kamu peroleh. Pintar itu kalau kamu jadi paranormal, cerdas itu kalau kamu jadi Presiden. Pinter itu kalau kamu jadi pemain sepakbola terkenal, cerdas itu kalau kamu jadi pelatihnya. Saya mempunyai seorang teman wanita yang sangat kagum pada teman cowok saat masih SMA bahkan bertahan hingga saat ini, saat dia sudah berumur lebih dari seperempat abad, tanpa bisa pindah ke lain hati. Dan rasa kagum itu bermula  saat cowok itu mendapat skor tes EQ yang tertinggi di sekolahnya.

Orang yang cerdas itu mempunyai kepribadian yang baik, bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi, tau cara bersikap dan menghargai wanita. Dengan sifat-sifat seperti ini wanita mana yang akan tidak tertarik kepadanya? Maka yang pertama dikejar oleh laki-laki dari dirinya sendiri  adalah kecerdasan, baru kemudian penampilan nomer dua. Sebaliknya, wanita akan mengejar penampilan yang menarik dari dirinya sebagai pilihan yang utama, kalau penampilan menarik ini merasa tidak didapati dari dirinya, ia mengejar pilihan kedua, kecerdasan. Hal ini karena laki-laki umumnya lebih memilih penampilan fisik sebagai hal pertama dari wanita.

Itu menurut apa yang aku yakini. Tak salah kan sekedar ikut-ikutan Anas berteori. Kalaupun salah juga wajar. Toh tidak ada teori buatan manusia yang benar seratus persen. Benar pun juga relatif kalau menurut manusia. Seperti teori abiogenesis yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang dikemukakan oleh Aristoteles ilmuwan Yunani juga dianggap benar di zamannya sebelum ditumbangkan oleh teori biogenesis.

Sewaktu masih SMA, aku mengamati bahwa cewek-cewek lebih suka pada cowok yang terkenal di sekolahnya, semacam artis sekolah. Entah karena jadi ketua OSIS, juara siswa teladan tingkat kabupaten, jago basket atau sepakbola, ketua geng sekolahan, vokalis band sekolah atau ketua rohis. Pada masa ini cewek-cewek belum terlalu memikirkan masa depannya ataupun masa depan cowok yang menjadi incarannya.

Menginjak masa-masa kuliah cewek sudah mulai memikirkan masa depan, jadi kalau pun memilih pendamping hidup akan memilih yang bisa menjamin masa depannya. Dalam hal ini kalau di desa, PNS memiliki nilai tawar yang tinggi. Ya, walaupun gajinya pas-pasan namun dipastikan ajeg dan SK-nya bisa dijadikan jaminan. Jadi harta yang dimiliki seorang pria masih menjadi pilihan utama wanita dalam menjadikannya pendamping hidup.

Sekilas pernyataanku itu bertentangan dengan teoriku tadi bahwa kecerdasan menjadi daya tarik utama dari seorang pria terhadap seorang wanita. Begini, wanita memang suka pria cerdas tapi bila untuk menjadikan pendamping hidupnya umumnya lebih memilih pria berharta. Seperti juga wanita suka pria tampan, tapi lebih memilih pria berharta untuk menjadi pendamping hidupnya. Dari pernyataan ini aku tidak mengatakan kalau sebagian besar wanita itu meterialistis. Maksudnya begini, ada banyak faktor yang memjadi pertimbangan utama wanita dalam memilih pria sebagai pendamping hidupnya, jika misalnya kita survei terhadap 100 orang wanita, kemudian 22 orang wanita memilih harta, 21 orang wanita memilih kecerdasan, 20 orang wanita memilih ketampanan, 19 orang wanita memilih kepribadian, dan 18 orang wanita sisanya memilih lain-lain faktor, maka dari hal ini sebenarnya wanita yang dikategorikan matre hanya 22 persen. Ya memang lebih besar bila dibandingkan dengan salah satu faktor yang lain tapi kan tidak bisa dikatakan bahwa sebagian besar wanita adalah matre.

Hal itu adalah hanya salah satu contoh sampel saja untuk menjelaskan analisisku tadi. Bukan survei secara sebenarnya, hanya ingin menggambarkan bahwa wanita lebih memilih harta. Mengenai persentase sebenarnya aku gak tau. Kalaupun benar dilakukan survei, hasilnya pun mungkin hanya valid di tempat dilakukan survei. Karena hal itu akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat pendidikan, budaya masyarakat, kondisi sosial ekonomi dan banyak faktor lainnya.

(Bersambung)

December 9, 2010 at 6:15 pm 34 comments

Cinta Fitria (Episode #23): Bakat Fotografer

Perlu aku ceritakan bahwa Anas memiliki suatu kebiasaan bila melihat wanita cantik. Memang sama dengan laki-laki normal pada umumnya bila ada wanita cantik pasti ingin memperhatikan. Tapi Anas ini berbeda, maksudnya berbeda dalam cara memperhatikannya. Kalau bisa aku gambarkan begini, bila Anas misalnya lagi nongkrong bareng teman-temannya di pinggir jalan, tiba-tiba lewatlah di depan mereka seorang wanita cantik, dengan pakaian yang menarik mungkin bagi sebagian orang, maka semua teman-teman Anas ini akan melihat Anas, bukan melihat wanita tersebut. Mereka justru lebih milih melihat Anas melihat wanita itu. Jadi lebih menarik Anasnya untuk dilihat daripada wanita tadi.

Sejak awal bekerja di kantor kami, Anas diberi posisi sebagai fotografer. Posisi yang keren bagi sebagian orang, tapi tidak untuk di kantor kami. Suatu pekerjaan yang melelahkan kalau kata Anas. Namun, menurutku itu posisi yang tepat untuk dia–sekali lagi aku berteori. Bagaimana tidak, seorang fotografer selain harus pandai memotret atau mengambil gambar suatu obyek, menurutku harus memiliki beberapa kemampuan tambahan. Yang pertama adalah kemampuan mengenali dan memilih obyek, nah ini adalah kamampuan alami yang dimiliki oleh Anas. Jika misalnya ada wanita cantik seperti yang aku katakan tadi, Anas memiliki kemampuan cepat untuk menerima sinyal andaikan wanita cantik tadi diibaratkan sebagai sebuah sinyal. Seperti dalam komunikasi maka Base Transceiver Station (BTS) Anas adalah yang paling bagus sebagai penerima sinyal.

Yang kedua adalah kemampuan mengambil angle of view atau sudut pandang dalam mengambil obyek foto. Hal ini juga tak kalah apik dimiliki oleh Anas berupa kemampuan untuk berada ditempat yang tepat, duduk atau berdiri di posisi yang tepat, mengambil jarak yang sesuai untuk bisa mengamamati, melihat ataupun memandangi wanita cantik yang berada pada suatu tempat, suatu pesta atau bahkan saat berjalan di keramaian di mall, pasar ataupun di terminal.

Yang ketiga adalah kemampuan mengatur obyek. Seorang fotografer harus bisa mengarahkan, mengatur gaya ataupun pose berfoto dari obyek ataupun model yang akan diambil gambarnya. Dalam hal ini Anas diakui paling jago. Sekedar mengucapkan “Mbak lebih anggun deh kalau difoto di atas meja itu” atau “Pohon itu tampak lebih angker kalau Mbak foto di situ” adalah cara mengarahkan seorang wanita yang baru ditemuinya untuk bisa diambil fotonya ataupun kalau ingin foto bersamanya. “Mbak cantik banget kalau difoto kayak sang putri, sayang gak ada pengeran di sampingnya”. Gombal.

Yang keempat adalah timing atau saat mengambil foto yang tepat. Orang bilang dalam dunia fotografi timing adalah segalanya. Timing yang bagus membuat foto objek yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, dan timing yang buruk membuat foto objek yang luar biasa menjadi biasa-biasa saja. Timing sangat penting saat mengambil foto aksi, seperti olahraga, satwa liar dan  fotografi jalanan. Berlaku untuk fotografer pemandangan, konon saat terbaik untuk mengambil foto pemandangan adalah 30 menit sebelum matahari terbit dan 30 menit sesudah matahari terbenam.

Dalam hal timing kemampuan Anas tidak diragukan lagi. Dapat aku ceritakan begini, jika misalnya dalam suatu mall dari lantai pertama Anas ingin naik ke lantai lima melalui eskalator dalam tiap lantai. Tiba-tiba di belakangnya terlihat wanita cantik yang memakai rok mini, maka Anas akan berhenti sebentar sambil pura-pura melihat jam atau apapun yang dipajang di toko samping eskalator. Kemudian membiarkan wanita tersebut naik eskalator mendahului dirinya. Nah disini timing diperlukan, maka dia akan mengikuti di belakangnya pada jarak yang diperkirakan tepat, tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Nanti kalau teman-teman pas naik eskalator coba pikirkan sendiri, seberapa jarak yang pas yang aku maksud tadi. Sebuah timing yang sempurna bukan? Adapun kalau naik lift, dan kebetulan bareng wanita cantik, dia kan menjadi the right man on the right place, orang yang tepat berada di sebelah kanan.

Yang kelima adalah lighting atau pencahayaan. Sebuah foto akan tampak indah jika mendapat cahaya yang sesuai. Mungkin hal ini yang masih luput dari perhatian Anas. Nanti akan aku sarankan agar dia membawa lampu senter kemana-mana. Barangkali suatu saat dia akan memerlukannya.

(Bersambung)

December 9, 2010 at 5:56 pm 14 comments

Cinta Fitria (Episode #22): Budaya Berteori

Seperti biasa pagi-pagi geng kami sudah sarapan di warung pojok DPR, Di bawah Pohon Rindang, yang letaknya memang di pojokan area kantor tempat kami bekerja. Ada Anas, Novita, Endah, aku dan teman-teman lain sekantor yang duduk melingkar dalam satu meja. Tiba-tiba datang Fitria bersama gengnya, Adi dan Aan. Melihat hal itu, tanpa dikomando Anas langsung memandang Fitria tanpa berkedip sekalipun, dari ujung kepala sampai ujung kepala lagi. Melihat hal itu Novita berkomentar.

“Mentang-mentang gak ada ceweknya, ngelihatin Fitria sampai begitu, jaga pandangan!”

“Iya, ini pandanganku ke Fitria dah aku jaga terus dari tadi” kata Anas tanpa memalingkan matanya dari apa yang dilihatnya dari tadi.

“Mungkin maksud Novita, kamu diminta untuk menahan pandanganmu” Endah mencoba membenarkan kalimat temannya yang dirasa kurang tepat.

“Justru itu aku dari tadi menahan pandanganku supaya jangan sampai lepas” Anas tak mau kalah.

Aku mengambil posisi untuk memberikan komentar, menyadari hal itu Anas buru-buru mengeluarkan teorinya.

“Cewek must, kalo kamu perhatikan terus, nanti bakalan suka sama kamu” teori Anas tentang cewek untuk kesekian kalinya.

Sebenarnya gak ada yang salah dengan kebiasaan berteori. Setiap orang punya teori sendiri-sendiri, tentang apapun, diungkapkan ataupun disimpan dalam hati. Juga semua teori Anas tentang wanita, ada benarnya juga, walaupun tidak semuanya benar. Namanya juga teori buatan manusia, tidak ada yang benar sempurna. Apalagi teori tentang manusia, yang mana manusia diciptakan Tuhan begitu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada satu teori pun buatan manusia yang sanggup merangkumnya dalam satu teori yang bisa diterima semuanya. Manusia diciptakan unik dan beragam. Maka runtuhlah teori keseragaman.

“Bukan diperhatikan, tapi diberi perhatian” kataku mencoba membantah toeri Anas.

Sejak itupun aku ikut-ikutan berteori. Tidak mau kalah, kata teman-teman. Namun, masalah produktivitas masih jauh bila dibandingkan dengan Anas. Seandainya dulu aku kemana-mana membawa buku catatan dan aku catat setiap teori yang dikatakan oleh Anas, mungkin sekarang aku sudah bisa menerbitkan sebuah buku. “Buku Pintar Bagaimana Memahami Wanita”, itu mungkin judul untuk buku yang aku terbitkan karena orang Indonesia sangat menyukai buku pintar. Atau kalau tidak aku beri judul: “Rahasia Sifat Wanita”, karena orang-orang bakal tertarik pada sesuatu yang namanya rahasia. Atau mungkin biar lebih laku akan aku beri judul: “1001 Teori Tentang Wanita, ditulis oleh sang Penakluk Wanita”. Para cewek memang suka cowok yang perhatian karena mereka memang senang diperhatikan. Seperti lagunya Ada Band yang berjudul “Karena Wanita Ingin Dimengerti”, cewek-cewek pada umumnya suka kalo punya cowok yang bisa mengerti diri mereka dan segala keinginan mereka.

Menyadari dirinya dilihat terus oleh Anas, Fitria menjadi salah tingkah. Akhirnya dia memberanikan diri menegur cowok yang dirasa kurang ajar padanya.

“Ngapain lihat-lihat, belum pernah lihat cewek cantik apa!” bentak Fitria.

Mendengar hal itu dengan tenang Anas menghampiri Fitria, mengulurkan tangan dengan maksud memperkenalkan diri.

“Namaku Anas, namamu Fitria kan?” jawab Anas sok kenal sok dekat.

Karena belum direspon, Anas melanjutkan kata-katanya.

“Hmm, punya bolpen gak?”

“Gak” jawab Fitria ketus.

“Kalau nomer HP punya kan?” lanjut Anas memaksakan diri.

Fitria mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, sebuah kartu nama, menyerahkannya kepada Anas.

“Nih, kamu boleh telpon nanti malam, sekarang silakan pergi dan jangan ganggu aku” sekarang Fitria berkata lembut berharap Anas segera pergi meninggalkannya.

“Nah gitu dong, nomermu cantik, kayak orangnya. Ini nomer HP-mu kan?” tanya Anas dengan wajah gembira, tinggal satu langkah lagi pikirnya.

“Bukan, nomer HP pacarku” jawab Fitria diiringi tawa beberapa orang di sekitarnya yang tak sengaja mendengar percakapan tersebut.

Anas lari meninggalkan tempat itu, tanpa bernapsu menghabiskan sarapan yang ditinggalkannya tadi.

“Sial, alamat mbayarin makanannya lagi” umpatku.

(Bersambung)

December 9, 2010 at 5:46 pm 6 comments

Cinta Fitria (Episode #21): Pesona Anas

Di tempat kerja kami memiliki semacam geng sarapan bareng atau makan siang bareng. Pada awal-awal masuk kerja rata-rata memang seperti itu, maklum kerena masih baru sehingga belum berani sendiri ke mana-mana takut nyasar, atau diculik. Geng ini hanyalah geng kecil yang terdiri dari tiga sampai lima orang. Kalau dua orang bukan geng namanya, tapi pasangan. Geng ini tidaklah mempunyai nama, tanpa dikoordinir dan tidak punya pimpinan. Hanya setiap waktunya sarapan atau makan siang tanpa dikomando sudah siap di tempat biasa.

Seperti halnya Fitria yang punya geng sarapan bersama Adi dan Aan, aku juga punya geng sendiri. Pada awalnya anggotanya lima orang, Anas, Novita, Endah, Burhan dan aku. Kedepannya akan ada keluar masuk anggota tanpa pemberitahuan resmi, termasuk masuknya Fitria setelah pisah sama Aan dan Adi.

Anas adalah yang paling muda diantara kami, tidak tahu alasannya kenapa dia lebih suka nggabung dengan teman-teman yang usianya dua atau tiga tahun di atasnya, padahal teman-teman yang seusianya juga banyak. Ternyata aku baru tahu kemudian. Jika teman-teman yang lain mungkin lebih suka sama cewek yang seangkatan, tapi Anas lebih suka sama cewek yang dua angkatan, atau minimal satu setengah angkatan. Yang tidak akan kuat diangkat kalau hanya satu angkatan. Dia terlalau patuh pada nasehat orang tuanya: “Le, kalau nyari jodoh itu lihatlah bibit, bebet dan bobotnya”.  Nah itulah salah satu yang diperhatikan Anas, bobot.

Meskipun paling muda, Anas orangnya paling pede diantara kami. Dia paling pinter berteori. Kalau ketemu aku dia akan selalu mengeluarkan teori barunya.

“Cewek must, bla… bla… bla…” kata Anas dengan percaya diri menjelaskan teorinya, menunjukkan bukti-bukti yang bisa mendukung teorinya, seperti Charles Darwin yang sedang menjelaskan tentang teori evolusinya. Aku biasanya hanya mendengarkan, atau kadang juga membantah kalau pas ada Novita.

“Buktinya Novita nggak” kataku.

Dia akan selalu membela, “Berarti ada dua kemungkinan, pertama teoriku yang salah, kedua Novitanya yang salah. Mari kita buktikan Novita bener cewek atau bukan” .

“Ceweklah. Ayo Nov tunjukkan!” lanjutku memberikan kesempatan Novita untuk membela diri. Sejenak Novita berpikir masih bingung mencerna perkataanku. Karena  Novita belum paham mengenai apa yang aku maksud untuk ditunjukkan, aku melanjutkan kalimatku.

“KTP-mu”.

“Oooo…” gumam Novita sambil mengeluarkan KTP dari dalam dompetnya dan menunjukkannya kepada Anas.

Satu hal yang sering Anas bangga-banggakan di depan kami adalah mengenai cewek-ceweknya ataupun mantan-mantanya. Aku percaya walaupun tidak seratus persen. Kalau dia bilang kalau mantan ceweknya berjumlah sepuluh orang, maka aku percaya kalau sebenarnya berjumlah lima orang. Kalau dia bilang lima orang, yang aku percayai hanyalah tiga orang. Itulah gengsi seorang laki-laki. Maka pesanku, janganlah terlalu percaya bila laki-laki memamerkan keberhasilan cintanya. Laki-laki tak sehebat apa yang dia katakan tentang kisah cintanya. Setidaknya, itu yang aku percayai.

(Bersambung)

December 6, 2010 at 1:35 pm 18 comments

Older Posts


November 2017
M T W T F S S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archives

Recent Posts